Rabu, 29 April 2015
Selasa, 21 April 2015
sejarah peradaban islam
Kedatangan dan
Perkembangan Islam
Awal sejarah dan berkembangnya Islam di Nusantara tampak sangat rumit dan
cukup problematis, tapi menarik untuk dibahas. Banyak masalah yang muncul
tentang adal-usul dan perkembangan Islam di kawasan ini. Problem yang muncul
bukan hanya karena perbedaan-perbedaan tentang apa yang di maksud dengan
‘Islam’ oleh para ahli, tapi lebih penting dari itu karena minimnya data yang
memungkinkan kita untuk merekonstruksi suatu sejarah yang dapat dipercaya.
Menarik untuk memahami dan menjelaskan
Islam datang berkembang di kepulauan
Melayu-Indonesia mengingat bahwa posisi geografis wilayah ini yang berbeda jauh dari pusat-pusat Islam di Timur Tengah. Proses
islamisasi di Nusantara juga berbeda dengan daerah lainnya, dimana prosesnya
dilakukan secara damai karena daya tarik agama Islam sendiri bagi masyarakat.
Hal ini sangat berbeda jauh seperti di daerah lainnya, proses islamisasinya
harus dibayar mahal dengan darah dan peperangan. Proses ini juga tidak lepas dari kondisi Timur Tengah sendiri,
sehingga Islam yang datang ke Nusantara tertatih-tatih, lelah dan mengalami
kemunduran akibat perang.
Para ahli menggambarkan proses damai itu
dengan dua cara, pertama masyarakat Melayu berkenalan dengan agama Islam
kemudian menganutnya, kedua orang-orang asing seperti Arab, India, China dan
lain-lain, yang telah memeluk agama Islam yang bertempat
tinggal disuatu daerah Nusantara, dan melakukan perkawinan
dengan penduduk setempat sehingga menghasilkan kelompok-kelompok Muslim.( Aris
Munandar dkk, 2009)
Selain memalui perkawinan, jalan perdagangan juga menjadi awal utama dalam
proses islamisasi pada bumi Nusantara. Sejak awal Masehi sudah ada rute-rute
pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di
daratan Asia Tenggara. Wilayah barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa
kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi
yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan
penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal
dari Maluku, dipasarkan di Jawa dan Sumatra, untuk kemudian dijual pada pedagang
asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan
ke-7 Mahesi sering disinggahi pedagang asing, seperti Lamuri (Aceh), Barus dan
Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa. (Abdulgani Roeslan, 1983)
Pedagang-pedagang muslim yang berasal dari Arab,
Persia dan India juga ada yang sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang
sejak abad ke-7 Mahesi, yang
merupakan pusat utama lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Melalui Malaka, hasil
hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok Nusantara dibawa Cina dan India,
terutama Gujarat, yang melakukan hubungan dagang langsung dengan Malaka pada
waktu itu. Dengan demikian, Malaka menjadi mata rantai pelayaran yang penting.
Lebih ke barat lagi dari Gujarat, perjalanan laut melintasi Laut Arab.
Teori Tentang
Islamisasi Nusantara
Dalam kajian ilmu sejarah, tentang
masuknya Islam di Nusantara masih “debatable”. Selain itu juga masing-masing
pendapat penggunakan berbagai sumber, baik dari arkeologi, beberapa tulisan
dari sumber barat, dan timur.
Ø Teori Gujarat
Asal-usul Islam yang berkembang di tanah Nusantara, menurut teori ini,
adalah Gujarat (India) melalui jalur perdagangan dan perkawinan. Pijnappel, seorang
sarjana dari Belanda, adalah orang yang pertama kali mengajukan teori ini. Mereka adalah muslim orang-orang Arab yang mempunyai
madzhab Syafi’i dan menetap di India-lah yang kemudian membawa Islam
ke Indonesia. Snouck Hurgronje, sejalan dengan teori ini, mengaitkan bahwa
ketika Islam telah menguasi kota-kota pelabuhan yang terdapat di India Selatan,
terdapat orang-orang muslim dari Dhaka yang bertepat tinggal disana sebagai
perantara perdagangan Timur Tengah dan Nusantara, yang kemudian datang ke tanah
Nusantara untuk menyebarkan agama Islam disamping menjadi pedagang. Menurutnya,
awal Islamisasi Indonesia bermula pada abad ke 12-13 M. (Azyumardi Azra, 2002)
Bukti yang melandasi teori ini adalah ditemukannya persamaan bentuk,
bahan dan ornamen batu nisan Malik Ibrahim di
Gresik dengan batu nisan Al-Kazaruni di Cambay, Gujarat. Selain itu, adat istiadat India-Islam yang ada di Nusantara juga menjadi
point tersendiri untuk memperkuat teori bahwa sangat mungkin masyarakat
Melayu-Indonesia mengalamasi proses Islamisasi dari Gujarat.
Ø Teori Arab
Teori ini sejalan dengan pendapat yang dibawakan oleh T. B. Arnold
tentang asal-usul Islam di dunia Melayu yang bermula pada abad ke 7 M. Ia
berpendapat bahwa Islam di wilayah ini berasal dari Coromandel, Malabar, dan
tak lepas dari peranan orang-orang Arab Muslim. Dasar pendapatnya adalah peresamaan mazhab, yaitu mazhab Syafi’i yang kemudian menjadi pegangan Muslim di wilayah
ini, dan pegadang menajdi aktor yang sangat penting dalam proses Islamisasinya.
Argumennya didasarkan pada berita Cina yang menyebutkan bahwa abad ke-7 M ada
seorang Arab yang memimpin pemukiman Arab di pesisir Barat Sumatra dan mereka
melakukan perkawinan dengan penduduk setempat sehingga membentuk komunitas
muslim. (Azyumardi Azra, 2002)
Sejumlah ahli Indonesia juga sepakat bahwa
mereka menerima teori ini. Naquib al-Attas ialah
seorang ahli yang sangat membela teori Arab tersebut, ia sangat yakin bahwa
berdasarkan bukti-bukti literatur keagamaan tidak satu pun
mencatat pengarang berasal dari India. Para pengarang yang dianggap oleh para
sarjana Barat sebagai orang India atau yang menhasilkan karya-karya asli
India, sebenarnya adalah orang Arab dan Persia. Bedasarkan nama-nama dan
gelar para pembawa awal Islam ke Nusantara menunjukkan bahwa mereka adalah
orang Arab atau Arab Persia.
Ø Teori China
Melalui jalur perdagangan yang menjadikan tanah Nusantara sebagai tempat
singgah para pedagang China dalam perjalanannya ke India dan Eropa, muncullah
teori bahwa Islam di kawasan yang lebih dikenal Malaysia-Indonesia berasal dari
China. Bukti dari teori ini ialah terdapat makam China Muslim, dan beberapa
wali yang kemungkinan berdarah China. Selain itu adanya gedung Batu di Semarang
(masjid gaya China), juga memperkuat teori ini. (sejarawan.wordpress.com)
Menurut penulis, teori tentang asal-usul Islam di Nusantara yang paling
tepat adalah teori Arab. Islam yang kini berkembang di Malaysia-Indonesia
adalah Islam yang langsung dibawa dari tanah Arab pada abad ke-7 M. Aktor
penyebaran Islam di wilayah ini adalah para guru atau juru dakwah
‘prefesional’, disamping adanya peran pedagang Arab. Tentang batu nisan yang
sama dengan yang ada di Gujarat, penurut penulis, ini tidak bisa serta merta
menjadi bukti Islam berasal dari wilayah itu. Sekali lagi penulis lebih
cenderung kepada Teori Arab pada abad ke-7 sebagai asal Islam Nusantara.
Islamisasi dan
Berkembangnya Islam
Proses pengislaman
pada seluruh kawasan Nusantara tidaklah seragam. Tingkat penerimaan Islam pada
satu bagian dengan bagian yang lain bergantung pada waktu pengenalan dan watak
budaya lokal yang dihadapi Islam. Di daerah pesisir, misalnya, kebanyakan
masyarakat mempunyai budaya maritim dan sangat terbuka terhadap kehidupan
kosmopolitan, maka Islam masuk dengan lebih mudah dibandingkang pada daerah
pedalaman yang memiliki budaya agraris yang lebih tertutup.
Penerimaan Islam di Indonesia dapat dikatakan melalui adhesi, yaitu
konversi ke dalam Islam tanpa meniggalkan kepercayaan dan praktik keagamaan
yang lama. Pada umumnya orang-orang Melayu-Indonesia menerima Islam karena
mereka percaya bahwa Islam akan memuaskan kebutuhan materi dan alamiah mereka.
Di kalangan mayoritas penduduk, Islam hanya memberikan satu bentuk tambahan
kepercayaan dan praktik yang dapat berubah sesuai dengan tujuan-tujuan
tertentu.
Adalah sebagian besar juru dakwah Islam di Nusantara seperti halnya Wali
Songo di pulau Jawa, yang mengenalkan Islam kepada penduduk lokal
justru dalam bentuk kompromi dengan kepercayaan lokal yang banyak diwarnai
takhayul atau kepercayaan animistik lainnya, bukan dalam bentuk eksklusivitas
profetik. Berdasarkan bukti-bukti tersebut dapat diartikan bahwa Islamisasi di
Nusantara merupakan suatu proses yang bersifat evolusioner, dan merupakan suatu
proses yang panjang menuju kompromi yang lebih besar terhadap eksklusivitas
Islam. ( Aris Munandar dkk, 2009)
Adapun mengenai cara atau saluran yang terjadi di Kepulauan
Melayu-Indonesia sehinggan Islam dapat berkembang dengan baik (Badri Yatim,
2008), antara lain:
· Islamisasi dan perkembangan melalui Jalur perdagangan
Pada taraf permulaan, saluran islamisasi
adalah perdagangan. Kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga
ke-16 M membuat pedagang-pedagang muslim (Arab, Persia, dan India), turut ambil
bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan timur
benua Asia. Saluran islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan
karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan
mereka menjadi pemilik saham dan kapal. Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa
para pedagang muslim banyak yang bermukim di pesisir Pulau Jawa yang pendudukya
ketika itu masih kafir. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan
mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlahmereka menjadi banyak, dan
karenanya anak-anak muslim itu menjadi orang Jawa dan juga mempunyai harta yang
melimpah.
· Islamisasi dan perkembangan melalui perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim
memiliki status sosial yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga
penduduk pribumi terutama putri-putri bangsawan tertarik untuk menjadi istri
saudagar-saudagar itu. Sebelum kawin, mereka diislamkan terlebih dahulu.
Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas. Akhirnya
timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan muslim. Dalam
perkembangan berikutnya, ada pula wanita muslim yang dikawini oleh keturunan
bangsawan, tentu saja setelah masuk Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini
lebih menguntungkan apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak
bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja, adipati atau bangsawan
itu kemudian turut mempercepat prosesi islamisasi. Demikianlah yang terjadi
antara Raden Rahmat atau Sunan Ngampel dan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati
dengan puteri Kawunganten, Brawijaya dengan puteri Campa yang menurunkan Raden
Patah (raja pertama Demak) dan lain-lain.
· Islamisasi dan perkembangan melalui Tasawuf
Pengajar-pengajar tasawuf, atau para sufi,
mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh
masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai
kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Di antara mereka ada juga yang mengawini
peteri-puteri bangsawan setempat. Dengan tasawuf, bentuk Islam yang diajarkan
kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang
sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan
diterima. Di antara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung
persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di
Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa.
· Islamisasi dan perkembangan melalui Pendidikan
Islamisasi dan berkembangnya Islam di Nusantara juga dapat dilihat dari segi
pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama,
kiyai-kiyai, dan ulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu calon ulama, guru
agama dan kiyai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren,
mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwah ke tempat tertentu
mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di
Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Keluaran pesantren Giri ini
banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan agama Islam.
· Islamisasi dan perkembangan melalui Kesenian
Saluran islamisasi melalui kesenian yang
paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah
tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah
atas pertunjukan yang dibawakan, tetapi hanya meminta para penonton untuk
mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih
dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita tersebut
disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Akhirnya Islam dapat berkembang dengan baik melalui jalan kesenian. Kesenian-kesenian lain
juga dijadikan alat islamisasi, seperti sasreta (hikayat, babad, dan
sebagainya), seni bangunan, dan seni ukir.
· Islamisasi dan perkembangan melalui Politik
Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan
rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk agama Islam terlebih dahulu.
Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Di
samping itu, baik di Samutra dan Jawa maupun di Indonesia bagian timur, demi
kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan
non-Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk
kerajaan bukan Islam tersebut untuk menganut agama Islam.
Dengan demikian, Islam dapat berkembang dengan baik di tanah Melayu-Indonesia
ini dan tetap mempertahankan corak khasnya. Bahkan Indonesia dewasa ini dikenal
sebagai negara terbesar dalam jumlah kaum muslim terbanyak di dunia. Tidak
berhenti sampai disini, perkembangan ini akan terus berkembang, sehingga
mempunyai potensi besar dalam perannya di dunia Islam.
REFERENSI
Ø Aris Munandar, Agus, dkk, 2009, Sejarah
Kebudayaan Indonesia, Religi dan Falsafah, Rajawali Pers, Jakarta
Ø Azra, Azyumardi, 2002, Islam Nusantara,
Jaringan Global dan Lokal, Mizan, Jakarta
Ø http://islamlib.com/id/artikel/rekonstruksi-sejarah-masuknya-islam-ke-jawa
Ø http://sejarawan.wordpress.com/2008/01/21/proses-masuknya-islam-di-indonesia-nusantara/
Ø http://www.scribd.com/doc/23730932/Sejarah-Masuknya-Islam-Ke-Nusantara
Ø Roeslan, Abdulgani, 1983, Sejarah Perkembangan
Islam di Indonesia, Pustaka Antar Kota, Jakarta
Ø
Yatim, Badri,
2008, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, PT.
RajaGrafindo Persada,Jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)
